Kiat Pengembangan Ekspor TPT Thailand
Pendekatan kepada dunia usaha TPT Thailand telah dilakukan untuk mendapatkan swap kuota TPT Thailand untuk Uni Eropa yang akan digunakan oleh eksportir Indonesia. Dari kegiatan itu didapat informasi tentang usulan yang akan diajukan kepada pertemuan kabinet Thailand, tentang strategi pengembangan industri tekstil dan pengembangan ekspor TPT yang akan dilaksanakan tahun ini berkenaan dengan upaya pemulihan ekonomi Thailand. Pelaksana strategi ini adalah lembaga swasta dengan koordinator Textile Development Institute (President: Kosit Panpiempas) bekerja sama dengan delapan lembaga swasta: (I) Thai Textile Manufacturing Association (President: Phongsak Assakul), (ii) Thai Synthetic Fibre Assc. (President: Sophon Vijitrakorn) ,(iii) Thai Garment Manufacturing Assc. (President: Chavalit Nimla-or), (iv) Thai Weaving Industries Assc., (v) Thai Silk Manufacturer Assc., (vi) Thai Textile, Bleaching, Dyeing, Printing and Finishing Industries, (vii) Union Textile Merchant Assc., (viii) National Federation on Thai Textile Industries (President: Surasit Tiyavacharapong).
Program yang akan dilaksanakan meliputi (i) Program peremajaan mesin-mesin industri tekstil, (ii) penurunan tarif menjadi 0-5% untuk semua input industri TPT, (iii) penggalakan ekspor khusus ke negara tetangga yang berbatasan dengan Thailand sebagai upaya peningkatan ekspor border trade TPT, (iv) Standarisasi proses manufakturing dan marketing. Dengan mekanisme butir (iv) ini, para pelaku sektor industri TPT dapat melakukan business matching dan pertukaran secara akurat pada setiap titik value change dari pengadaan bahan baku/komponen—proses produksi—ekspor—transfer—transhipment–distribusi–konsumen akhir mancanegara.
Cetak-biru strategi ini meliputi (I) peningkatan penguasaan permesinan dan teknologi, (ii) Peningkatan SDM, (iii) uji mutu dan inovasi, (iv) peningkatan mutu, (v) supply chain alliance (vi) quick respond mechanism. Pada butir (i) sampai (iv) terlihat sebagai strategi klise, namun untuk dua butir terakhir, benar-benar sangat strategik karena butir (v) mempersatukan seluruh pelaku industri TPT yang meliputi 9 cluster diatas dengan rangkaian value chain supply input TPT dunia, khususnya, di pusat disain adi busana seperti Hongkong dan Italia, dalam satu database komputer. Untuk butir (vi) quick respond strategy, diantaranya Thailand punya target dapat melayani setiap inquiries TPT mancanegara dengan segala kerumitan corak, disain, size, warna, tanggal delivery, tempat, style dan beragam variasi dengan cepat dan tepat serta dapat memberikan price quotation dalam hitungan jam melalui jaringan network pusat distribusi Thailand yang berlokasi di Export Processing Zone Negara tujuan ekspor utama. Para negotiator Thailand dari pemerintah maupun kelompok TPT swasta diatas, memanfaatkan benar assets negara ini berkaitan hubungan dekatnya dengan Amerika Serikat. Kedua negara memiliki Treaty of Amity and Commerce 20 Maret 1833 dan Treaty of Amity and Economic Relation 29 Mei 1966, terutama klausul national treatment dan free access. Berdasarkan informasi dari narasumber, dengan kedua instrument ini Thailand dapat melobby untuk mendapat perlakuan khusus kuota TPT, tingkat bea masuk, maupun perlakuan lain yang lebih leluasa dibandingkan perlakuan AS terhadap produk negara lain secara MFN. Keleluasaan ini juga dimanfaatkan Thailand pada sektor lain yang diekspor ke pasar AS. Selain untuk diterapkan pada sektor industri TPT, mekanisme ini dijadikan pilot proyek yang nantinya akan diterapkan pada sektor indutri lain, misalnya otomotive.
(Ditulis : 18 Mei 1999)

Leave a Reply