Tahun 1997, “Islamic Administration Act” telah disahkan oleh Parlemen Thailand. Pengesahan ini menimbulkan kontroversi, yaitu siapa yang berhak untuk menerbitkan sertifikat “Halal Food”. Saat ini, sertifikat diterbitkan oleh Kantor Chula Ratchmontri, setelah makanan tersebut diperiksa oleh Islamic Central Committee Negara Islam dan pemeluk agama Islam mancanegara sedang menjadi target konsumen produk ekspor halal food Thailand. Diantara sejumlah kiat, telah dibentuk instansi pemerintah “Halal Affairs Department” yang merupakan suatu direktorat (unit eselon II dari Kementerian Dalam Negeri Thailand). Pembentukan instansi tersebut, mencerminkan bagaimana pemerintah Thailand dengan jumlah penduduk Muslim terbatas, sangat serius menangani makanan halal, karena sadar potensi ekspor makanan olahan ke negara-negara Islam yang cukup besar, diantaranya Indonesia, Malaysia dan Timur Tengah, dan kantong-kantong penduduk Islam di manca negara.(TM)
(Ditulis : 12 Desember 1997 )
Kiat Thailand Mencari Devisa Halal Food.
•May 9, 2008 • Leave a CommentCost Structure Dan Import Duty Bahan Baku Industri Tekstil Thailand
•April 17, 2008 • Leave a CommentStruktur biaya produksi industri tekstil dan produk tekstil di Thailand seperti data terlampir terlihat tidak terlalu mengkhawatirkan daya saingnya disbanding industri Indonesia. Data ini dikelompokkan untuk produk fabrics, garment, textile yarn dan sweater. Alokasi depresiasi yang tinggi, umumnya ditujukan untuk industri padat modal dan merupakan fasilitasi insentif investasi yang diberikan pemerintah Thailand dalam hal ini Board of Investment dalam bentuk depresiasi yang dipercepat, sehingga merendahkan pajak pendapatan.
Ketergantungan industri tekstil di Thailand terhadap impor bahan baku, seperti tercantum di dalam lampiran, didapat dari data produksi, konsumsi, ekspor dan impor. Data tersebut hanya dapat dijadikan sebagai salah satu gambaran atau acuan tingkat ketergantungan bahan baku asal impor. Menurut keterangan nara sumber, pada pasar dalam negeri yang terbuka, tidak dapat secara matematis dan linear diartikan bahwa (produksi + impor = konsumsi + ekspor). Data terlampir juga memiliki unit satuan (ton) dan (matauang Baht).
Untuk industri benang polyester, ketergantungan terhadap bahan baku impor hampir tidak ada, karena kebutuhan pasar industri domestik terhadap man-made fibre sudah dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Untuk Industri benang kapas (cotton yarn) ketergantungannya terhadap serat kapas asal impor sangat tinggi yaitu 93.87%. Kebutuhan cotton fibre belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Produksi dalam negeri mencapai 18.2 ribu ton, sedangkan konsumsi atau permintaan industri mencapai 297 ribu ton, sehingga kekurangannya masih harus diimpor dari USA, Mesir dan lainnya. Thailand sedang mengembangkan kapas genetik (GMO) sebagai upaya untuk mengurangi impor kapas.
Untuk industri textile fabrics, baik cotton maupun polyester, tingkat ketergantungannya secara kuantitas juga mendekati 0 %, karena kebutuhan yarn sebagai bahan baku, sudah dapat dipenuhi produksi dalam negeri.
Untuk industri pakaian jadi (garment), bahan baku asal dalam negeri, cukup tersedia secara kuantitas sehingga tingkat ketergantungannya juga mendekati 0%. Sebagai layaknya negara yang menganut perdagangan terbuka, meskipun tingkat swasembada terhadap bahan baku tertentu dari sektor industri TPT sudah tercapai, namun perimbangan supply dan demand juga dilengkapi dengan kegiatan ekspor maupun impor. Thailand juga menggunakan bahan pembantu asal impor, antara lain seperti asesoris garment : ritsluiting, kancing, lapisan linen, bahan pewarna kain dan sejenisnya. Serat, benang, maupun kain wool yang hampir tidak diproduksi di Thailand, tingkat ketergantungannya terhadap bahan-bahan tersebut berkisar antara 3 – 85 persen.
Bea masuk kapas dan serat sintetis berkisar antara 3.75% – 5%. Produsen dapat menerima pengembalian bea masuk tersebut, apabila yang bersangkutan mengekspor barang jadinya. Pajak dan Pungutan resmi lainnya meliputi value added tax (7%), biaya pelabuhan, custom dan sejenisnya, seperti layaknya kegiatan komersial. (TM)
| COST STRUCTURE ON TEXTILE FABRIC INDUSTRY
IN THAILAND |
|||||
| 1. | MATERIAL COST | ||||
| a. | Cotton | : | 40.00 | % | |
| b. | Syntetic fibre | : | 10.00 | % | |
| c. | Other materials | : | 5.00 | % | |
| 2. | LABOUR COST | : | 7.50 | % | |
| 3. | FACTORY OVERHEAD COST | ||||
| a. | Depreciation | : | 20.00 | % | |
| b. | Electrical Energy | : | 10.00 | % | |
| c. | Steam | : | 1.50 | % | |
| d. | Maintenance | : | 2.00 | % | |
| e. | Others | : | 4.00 | % | |
| TOTAL PRODUCTION COST | : | 100.00 | % | ||
| COST STRUCTURE ON GARMENT INDUSTRY
IN THAILAND |
|||||
| 1. | MATERIAL COST | ||||
| a. | Fabrics | : | 35.00 | % | |
| b. | Accessories | : | 5.00 | % | |
| c. | Other materials | : | 1.00 | % | |
| 2. | LABOUR COST | : | 10.00 | % | |
| 3. | FACTORY OVERHEAD COST | ||||
| a. | Depreciation | : | 29.00 | % | |
| b. | Electrical Energy | : | 10.00 | % | |
| c. | Steam | : | 1.00 | % | |
| d. | Maintenance | : | 4.00 | % | |
| e. | Others | : | 5.00 | % | |
| TOTAL PRODUCTION COST | : | 100.00 | % | ||
| COST STRUCTURE ON TEXTILE YARN INDUSTRY
IN THAILAND |
|||||
| 1. | MATERIAL COST | ||||
| a. | Cotton | : | 25.00 | % | |
| b. | Syntetic fibre | : | 15.00 | % | |
| c. | Other materials | : | 10.00 | % | |
| 2. | LABOUR COST | : | 10.00 | % | |
| 3. | FACTORY OVERHEAD COST | ||||
| a. | Depreciation | : | 25.00 | % | |
| b. | Electrical Energy | : | 10.00 | % | |
| c. | Steam | : | 1.00 | % | |
| d. | Maintenance | : | 2.00 | % | |
| e. | Others | : | 2.00 | % | |
| TOTAL PRODUCTION COST | : | ||||
(Ditulis : 11 September 2001)
Ekspor Garment Thailand Turun
•April 17, 2008 • 1 CommentBersumber pada Thai Garment Manufacturers Association (TGMA), ekspor garment Thailand periode 6 bulan pertama 2001 tercatat US$ 1,532.8 juta yang berarti turun 5.23% bila dibandingkan dengan ekspor pada periode yang sama tahun 2000 yang nilainya US$ 1,617.39 juta.
Ekspor garment Thailand ke negara tujuan utama dalam periode 6 bulan pertama 2001 tersebut, kecuali ASEAN, mengalami penurunan. Ekspor ke USA, EU, Jepang dan ASEAN tercatat senilai US$ 1.29 milyar atau turun 5.3%, yaitu ke USA senilai US$ 802.40 juta atau turun 4.03%, ke EU US$ 333.41 juta atau turun 10.29%, ke Jepang US$ 121 juta atau turun 3.08%, sedangkan untuk tujuan ASEAN US$ 29.81 juta atau meningkat 14.43%.
USA adalah negara tujuan ekspor utama yang menyerap 52.35% dari total ekspor garment Thailand, disusul EU 21.75%, Jepang 7.89% dan ASEAN 1.94%, sehingga pasar garment Thailand utama tersebut diatas, menyerap 83.95% total ekspor garment Thailand pada periode 6 bulan pertama 2001. Negara-negara tujuan lainnya, menyerap 16.05% atau senilai US$ 246.06 juta atau turun 4.87% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2000.
Lebih lanjut TGMA menyatakan, bahwa pangsa ekspor garment dunia Thailand dalam tahun 1999 tercatat 1.9% atau turun bila dibandingkan dengan pangsa tahun 1990 yang besarnya 2.6%, sedangkan China, India, Indonesia, Bangladesh, Sri Lanka, Pakistan dan Vietnam, pangsa ekspor garment dunia-nya meningkat karena di negara-negara tersebut ongkos buruh lebih rendah dibanding Thailand. Sedangkan peningkatan pangsa ekspor garment dunia Meksiko dan negara-negara Caribean, disebabkan mereka menerima GSP dari USA, disamping itu, Meksiko juga menikmati “tax privileges” dibawah “North American Free Trade Agreement”.
Melihat kedepan, TGMA juga khawatir dengan kuota impor yang akan dihapus pada tahun 2005, karena jelas akan memperketat persaingan di pasar dunia. Hal yang positif dari penghapusan kuota impor ini adalah, ekspor garment Thailand tidak lagi terhambat oleh sistim kuota yang diterapkan negara pembeli.
Untuk mengatasi kendala dan persaingan yang makin tajam tersebut, TGMA menyarankan agar produsen garment Thailand meningkatkan efisiensi dan local content management, meningkatkan kwalitas dan mempercepat pengiriman (delivery) ke negara tujuan ekspor.
Hasil studi yang disusun oleh Mr. David Wilson (expert dari USA) yang disewa Department of Export Promotion (DEP) antara lain menekankan, bahwa keunggulan dalam bersaing terutama tergantung dari ongkos produksi. Karena upah buruh di Thailand lebih tinggi dibanding dengan negara saingan, maka hanya dapat diatasi dengan peningkatan efisiensi produksi. Hasil studi menyebutkan, apabila program peningkatan efisiensi produksi diterapkan dan dengan bantuan dari DEP, produksi garment Thailand dapat ditingkatkan 40%.
Tahun 2000 yang lalu, 3 (tiga) produsen garment Thailand, yaitu “Nan Yang Garment”, Apparel Avenue” dan Heart & Man Apparel” secara sukarela telah mengikuti program, dengan menyediakan pabriknya untuk digunakan sebagai pilot proyek dengan spesialis yang disewa, dan pemakaian mesin modern, dan hasilnya produksi dapat ditingkatkan antara 30% – 100%. Karena keberhasilan ini, 12 produsen garment ikut dalam program, dan sekitar 60 orang insinyur tekstil dan teknisi dilatih untuk mempersiapkan pengembangan lebih lanjut.
Statistik ekspor garment Thailand :
| JENIS PRODUKSI | Nilai (Juta US$) | Pertumbuhan (%) | ||
| 2000 (Jan-Des) | 2001 (Jan-Jun) | 2000 | 2001 (Jan-Jun) | |
| Apparel | 3,135.5 | 1,406.7 | 7.5 | - 6.7 |
| Woven | 1,345.9 | 613.4 | 8.8 | - 7.6 |
| Circular knit | 1,057.9 | 484.8 | 2.0 | - 12.5 |
| Flat knit | 353.0 | 117.4 | 18.0 | - 0.4 |
| Infant wear | 378.7 | 191.1 | 9.7 | 11.0 |
| Brassieres and accs. | 160.7 | 93.3 | 38.7 | 27.1 |
| Stocks and stockings | 59.0 | 25.6 | 14.7 | - 5.9 |
| Gloves | 17.5 | 7.2 | - 10.9 | - 19.5 |
| Total | 3,372.7 | 1,532.8 | 8.6 | - 5.2 |
Bersumber pada Thai Garment Manufacturers Association (TGMA), ekspor garment Thailand periode 6 bulan pertama 2001 tercatat US$ 1,532.8 juta yang berarti turun 5.23% bila dibandingkan dengan ekspor pada periode yang sama tahun 2000 yang nilainya US$ 1,617.39 juta.
Ekspor garment Thailand ke negara tujuan utama dalam periode 6 bulan pertama 2001 tersebut, kecuali ASEAN, mengalami penurunan. Ekspor ke USA, EU, Jepang dan ASEAN tercatat senilai US$ 1.29 milyar atau turun 5.3%, yaitu ke USA senilai US$ 802.40 juta atau turun 4.03%, ke EU US$ 333.41 juta atau turun 10.29%, ke Jepang US$ 121 juta atau turun 3.08%, sedangkan untuk tujuan ASEAN US$ 29.81 juta atau meningkat 14.43%.
USA adalah negara tujuan ekspor utama yang menyerap 52.35% dari total ekspor garment Thailand, disusul EU 21.75%, Jepang 7.89% dan ASEAN 1.94%, sehingga pasar garment Thailand utama tersebut diatas, menyerap 83.95% total ekspor garment Thailand pada periode 6 bulan pertama 2001. Negara-negara tujuan lainnya, menyerap 16.05% atau senilai US$ 246.06 juta atau turun 4.87% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2000.
Lebih lanjut TGMA menyatakan, bahwa pangsa ekspor garment dunia Thailand dalam tahun 1999 tercatat 1.9% atau turun bila dibandingkan dengan pangsa tahun 1990 yang besarnya 2.6%, sedangkan China, India, Indonesia, Bangladesh, Sri Lanka, Pakistan dan Vietnam, pangsa ekspor garment dunia-nya meningkat karena di negara-negara tersebut ongkos buruh lebih rendah dibanding Thailand. Sedangkan peningkatan pangsa ekspor garment dunia Meksiko dan negara-negara Caribean, disebabkan mereka menerima GSP dari USA, disamping itu, Meksiko juga menikmati “tax privileges” dibawah “North American Free Trade Agreement”.
Melihat kedepan, TGMA juga khawatir dengan kuota impor yang akan dihapus pada tahun 2005, karena jelas akan memperketat persaingan di pasar dunia. Hal yang positif dari penghapusan kuota impor ini adalah, ekspor garment Thailand tidak lagi terhambat oleh sistim kuota yang diterapkan negara pembeli.
Untuk mengatasi kendala dan persaingan yang makin tajam tersebut, TGMA menyarankan agar produsen garment Thailand meningkatkan efisiensi dan local content management, meningkatkan kwalitas dan mempercepat pengiriman (delivery) ke negara tujuan ekspor.
Hasil studi yang disusun oleh Mr. David Wilson (expert dari USA) yang disewa Department of Export Promotion (DEP) antara lain menekankan, bahwa keunggulan dalam bersaing terutama tergantung dari ongkos produksi. Karena upah buruh di Thailand lebih tinggi dibanding dengan negara saingan, maka hanya dapat diatasi dengan peningkatan efisiensi produksi. Hasil studi menyebutkan, apabila program peningkatan efisiensi produksi diterapkan dan dengan bantuan dari DEP, produksi garment Thailand dapat ditingkatkan 40%.
Tahun 2000 yang lalu, 3 (tiga) produsen garment Thailand, yaitu “Nan Yang Garment”, Apparel Avenue” dan Heart & Man Apparel” secara sukarela telah mengikuti program, dengan menyediakan pabriknya untuk digunakan sebagai pilot proyek dengan spesialis yang disewa, dan pemakaian mesin modern, dan hasilnya produksi dapat ditingkatkan antara 30% – 100%. Karena keberhasilan ini, 12 produsen garment ikut dalam program, dan sekitar 60 orang insinyur tekstil dan teknisi dilatih untuk mempersiapkan pengembangan lebih lanjut.
Statistik ekspor garment Thailand :
| JENIS PRODUKSI | Nilai (Juta US$) | Pertumbuhan (%) | ||
| 2000 (Jan-Des) | 2001 (Jan-Jun) | 2000 | 2001 (Jan-Jun) | |
| Apparel | 3,135.5 | 1,406.7 | 7.5 | - 6.7 |
| Woven | 1,345.9 | 613.4 | 8.8 | - 7.6 |
| Circular knit | 1,057.9 | 484.8 | 2.0 | - 12.5 |
| Flat knit | 353.0 | 117.4 | 18.0 | - 0.4 |
| Infant wear | 378.7 | 191.1 | 9.7 | 11.0 |
| Brassieres and accs. | 160.7 | 93.3 | 38.7 | 27.1 |
| Stocks and stockings | 59.0 | 25.6 | 14.7 | - 5.9 |
| Gloves | 17.5 | 7.2 | - 10.9 | - 19.5 |
| Total | 3,372.7 | 1,532.8 | 8.6 | - 5.2 |
(Ditulis : 29 Agustus 2001)
Kiat Pengembangan Ekspor TPT Thailand
•April 16, 2008 • Leave a CommentPendekatan kepada dunia usaha TPT Thailand telah dilakukan untuk mendapatkan swap kuota TPT Thailand untuk Uni Eropa yang akan digunakan oleh eksportir Indonesia. Dari kegiatan itu didapat informasi tentang usulan yang akan diajukan kepada pertemuan kabinet Thailand, tentang strategi pengembangan industri tekstil dan pengembangan ekspor TPT yang akan dilaksanakan tahun ini berkenaan dengan upaya pemulihan ekonomi Thailand. Pelaksana strategi ini adalah lembaga swasta dengan koordinator Textile Development Institute (President: Kosit Panpiempas) bekerja sama dengan delapan lembaga swasta: (I) Thai Textile Manufacturing Association (President: Phongsak Assakul), (ii) Thai Synthetic Fibre Assc. (President: Sophon Vijitrakorn) ,(iii) Thai Garment Manufacturing Assc. (President: Chavalit Nimla-or), (iv) Thai Weaving Industries Assc., (v) Thai Silk Manufacturer Assc., (vi) Thai Textile, Bleaching, Dyeing, Printing and Finishing Industries, (vii) Union Textile Merchant Assc., (viii) National Federation on Thai Textile Industries (President: Surasit Tiyavacharapong).
Program yang akan dilaksanakan meliputi (i) Program peremajaan mesin-mesin industri tekstil, (ii) penurunan tarif menjadi 0-5% untuk semua input industri TPT, (iii) penggalakan ekspor khusus ke negara tetangga yang berbatasan dengan Thailand sebagai upaya peningkatan ekspor border trade TPT, (iv) Standarisasi proses manufakturing dan marketing. Dengan mekanisme butir (iv) ini, para pelaku sektor industri TPT dapat melakukan business matching dan pertukaran secara akurat pada setiap titik value change dari pengadaan bahan baku/komponen—proses produksi—ekspor—transfer—transhipment–distribusi–konsumen akhir mancanegara.
Cetak-biru strategi ini meliputi (I) peningkatan penguasaan permesinan dan teknologi, (ii) Peningkatan SDM, (iii) uji mutu dan inovasi, (iv) peningkatan mutu, (v) supply chain alliance (vi) quick respond mechanism. Pada butir (i) sampai (iv) terlihat sebagai strategi klise, namun untuk dua butir terakhir, benar-benar sangat strategik karena butir (v) mempersatukan seluruh pelaku industri TPT yang meliputi 9 cluster diatas dengan rangkaian value chain supply input TPT dunia, khususnya, di pusat disain adi busana seperti Hongkong dan Italia, dalam satu database komputer. Untuk butir (vi) quick respond strategy, diantaranya Thailand punya target dapat melayani setiap inquiries TPT mancanegara dengan segala kerumitan corak, disain, size, warna, tanggal delivery, tempat, style dan beragam variasi dengan cepat dan tepat serta dapat memberikan price quotation dalam hitungan jam melalui jaringan network pusat distribusi Thailand yang berlokasi di Export Processing Zone Negara tujuan ekspor utama. Para negotiator Thailand dari pemerintah maupun kelompok TPT swasta diatas, memanfaatkan benar assets negara ini berkaitan hubungan dekatnya dengan Amerika Serikat. Kedua negara memiliki Treaty of Amity and Commerce 20 Maret 1833 dan Treaty of Amity and Economic Relation 29 Mei 1966, terutama klausul national treatment dan free access. Berdasarkan informasi dari narasumber, dengan kedua instrument ini Thailand dapat melobby untuk mendapat perlakuan khusus kuota TPT, tingkat bea masuk, maupun perlakuan lain yang lebih leluasa dibandingkan perlakuan AS terhadap produk negara lain secara MFN. Keleluasaan ini juga dimanfaatkan Thailand pada sektor lain yang diekspor ke pasar AS. Selain untuk diterapkan pada sektor industri TPT, mekanisme ini dijadikan pilot proyek yang nantinya akan diterapkan pada sektor indutri lain, misalnya otomotive.
(Ditulis : 18 Mei 1999)
Produk Unggulan Thailand: Safety Standard From Farm To Table
•April 14, 2008 • Leave a CommentSejak tanggal 5 September 2000 telah diadakan kampanye gerakan nasional yang mempromosikan dengan gencar bahwa Thailand telah memutuskan untuk kembali ke khitah asli sebagai negara agro industri. Arah semula yang berupaya menjadi negara industri manufaktur dianggap gagal karena tetap tidak beranjak dari status ketergantungan impor bahan baku industri bahkan jatuh kedalam krisis yang berkepanjangan. Produk pertanian seperti beras, karet, cassava, buah, sayuran, produk perikanan dan bahan pangan olahan, kembali ditetapkan sebagai produk unggulan nasional. Produk industri seperti automotive, elektronika, produk tekstil, komputer, kimia, dan sejenisnya, tidak lagi diprioritaskan dan dibiarkan sesuai mekanisme pasar. Kegiatan ini merupakan evaluasi terakhir dari kampanye “Safety standard from Farm to Table”.
Kampanye ini merupakan strategi membangun untaian rantai produk pangan bermutu tinggi yang merupakan rangkaian kegiatan dari proses produksi produk pertanian, panen, distribusi pasca panen, proses manufakturing makanan olahan, makanan siap saji, restaurant dan katering.
Target untaian rantai pangan (food chain network) saat ini tinggal satu langkah terakhir mengingat keunggulan yang sudah diraih Thailand saat ini meliputi dari titik budidaya tani (farm) sampai titik pedagang pengecer (retailer) mancanegara. Satu langkah terakhir yang ingin dikuasainya, bisnis dari pengecer ke meja makan. Thailand saat ini sudah unggul dalam produk pertanian dengan status eksportir atau produsen terbesar dunia untuk beras, gula, karet, bunga potong, bibit tanaman, palmoil, tapioka, daging unggas, buah-buahan, makanan kaleng, dan sejenisnya. Thailand juga memiliki popularitas dan volume usaha substansial untuk Thai-restaurant-chain dan Thai-aircatering (anak perusahaan Thai Airways) yang melayani 100 ribu penumpang pesawat terbang mancanegara setiap harinya. Sasaran yang dituju adalah agar meja makan setiap rumah tangga penduduk dunia memiliki kandungan Thai product dengan standard mutu yang tinggi.
Target pasar utama yang dituju terlebih dahulu adalah pasar Asia dengan penduduk 3 milyar orang dengan pendapatan per kapita yang semakin meningkat dan selera Asia yang serupa dengan Thailand, sehingga tidak perlu repot-repot melakukan modifikasi.
Pelajaran menarik dari kegiatan kampanye safety standard from Farm to Table ini diantaranya meliputi sejumlah program berikut. Program standarisasi yang terintegrasi, komprehensif yang merangkai produk dari yang paling hulu sampai produk paling hilir secara berkesinambungan dan terkoordinasi sampai detail sehingga membentuk “total food chain network”.
Pelaksanaan program yang tertata, sistematis dan tepat seperti yang direncanakan. Realisasi backward linkage dan forward linkage yang rumit dan kompleks telah berhasil dimaterialisasikan. Pemilihan program yang tepat guna (from farm to table), dengan sasaran terfokus (pasar Asia), dan sumberdaya unggulan yang dimiliki negeri ini (produk pertanian). Koordinasi antar lembaga pemerintah, antar swasta dan antara pemerintah dengan swasta dari hulu ke hilir.
Saat ini produk beras, cassava, dan perikanan Thailand dikenal dengan mutu unggul yang mampu bersaing dengan keunggulan standard kesegaran Jepang yang sudah melampaui standard negara-negara barat. Thailand akan menjaga reputasi ini dan sedang berupaya agar mutu unggulan ini dapat dipertahankan tidak saja sampai di pasar mancanegara tetapi sampai di meja makan penduduk global, dalam bentuk nasi, penganan, makanan siap saji dan siap makan dan juga di meja makan restauran mancanegara maupun meja makan di pesawat komersial mancanegara. Karena keunggulan utama agro bisnis dan agro industry Thailand diantaranya adalah tiga produk ini maka industry makanan olahan yang dijadikan sasaran meliputi produk makanan yang berbasis tiga produk ini dan praktis tanpa adanya saingan langsung yang cukup signifikan.
Perekat Bangsa Thailand
Salah satu keberhasilan sistem politik yang mempersatukan bangsa Thailand adalah membangun perekat diantara 62 juta penduduk bangsa ini, diantaranya adalah keseragaman bahasa, agama Budha, pola hidup, dan fungsi raja. Walaupun terdapat konflik di wilayah selatan, namun praktis tidak ada potensi lain yang dapat memecah persatuan diantara rakyat Thailand.
Bahasa Thailand dengan aksara cacingnya memiliki akar sansekerta dengan pengaruh China dan perkembangan bahasa lokal yang berevolusi sepanjang sejarah Thailand. Semua penduduk menggunakan bahasa yang sama dan aksara sama sehingga mampu menjadi suatu ciri khusus dan jatidiri yang mempersatu bangsa Thailand. Laos merupakan negara tetangga satu-satunya yang juga memiliki bahasa yang nyaris sama dengan Thailand.
Agama Budha yang dianut oleh sebagian besar rakyat Thailand dengan segala tuntunan hidup maupun filosofinya dihayati benar oleh penduduk dan dilaksanakan di dalam kegiatan hidup sehari-hari termasuk dalam sendi-sendi ketatanegaraan sehingga menjadi tuntunan dan perekat penting bagi bangsa dan negara ini. Tiga propinsi paling selatan yang banyak penganut Islam menjadi kaum marjinal yang merasa terpinggirkan sehingga menimbulkan friksi politik sebagai satu-satunya masalah yang potensial memecah persatuan Thailand.
Raja Bumipol Aduljadej memerintah secara bijaksana selama puluhan tahun dan sangat dicintai oleh rakyatnya bahkan dipuja bagai setengah dewa. Belum pernah sepanjang sejarah pemerintahannya terjadi oposisi terhadap kekuasaannya. Perdana Menteri boleh berganti setiap tahun, baik karena kudeta maupun tidak, namun begitu diterima dan direstui oleh raja, maka segala gejolak politik langsung teredam. Fungsi raja inilah yang membuat negeri ini jauh dari gejolak politik. Raja selalu menjadi stabilizing factor dan tidak pernah terjadi kevakuman karena keberadaannya.
Dengan perekat bahasa, agama dan raja, bangsa Thailand mampu mengatasi segala persoalan negara karena homogenitas telah mempermudah rantai komando, menyederhanakan persatuan dan kesatuan. Dengan kondisi seperti ini segala masalah seperti yang terjadi belum lama ini yaitu krisis moneter 1997 mampu dengan cepat dapat diatasi dan tidak terjadi krisis multidemensi seperti di Indonesia. Faktor lain yang menjadi pendorong penting bagi kesatuan dan persatuan bangsa dan stabilitas nasional adalah kesadaran pihak militer untuk kembali ke barak dan tidak ikut campur lagi dengan urusan politik praktis seperti sebelum dasawarsa 1990an dimana dalam setahun bisa terjadi beberapa kali kudeta. Dengan faktor perekat tersebut stabilitas politik dapat dipertahankan dan target-target ekonomi dapat dicapai sehingga pertumbuhan kesejahteraan penduduk dapat terus di pertahankan.
Keunggulan Faktor Input Pertanian
Keunggulan produk pertanian Thailand bukan hasil dari upaya semalam seperti hikayat Bandung Bondowoso atau Sangkuriang, tetapi hasil perjuangan yang menyeluruh dari para tokoh dan rakyat Thailand selama ratusan tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi cerita sukses Thailand, namun bila dikaji dari sisi input sejumlah faktor berikut memberikan kontribusi yang signifikan.
Sistem pemilikan tanah pemicu keunggulan Thailand
Negeri gajah putih ini memiliki tanah hanya sebesar pulau Sumatera, itupun tidak semuanya subur. Lahan pertanian yang menghasilkan padi mutu tinggi dengan tingkat kesuburan memadai hanya wilayah disekitar ibukota Bangkok. Lahan ini juga dialiri oleh banyak kanal dan irigasi teknis. Lahan sisanya hanya tanah berkapur dan bercadas yang kurang subur, namun mampu menghasilkan karet dan cassava terbesar di dunia. Bangsa yang ulet ditempa kerasnya alam ini justru sukses melakukan budidaya pertanian yang pada gilirannya meneruskan cerita sukses kepada sektor industri yang mengolah hasil pertanian.
Lahan pertanian yang terbatas ini dikelola dengan baik oleh sistem kepemilikan tanah dan pemanfaatan yang efisien. Hampir seluruh lahan pertanian Thailand berukuran besar sebagai unit produksi yang memenuhi skala ekonomi. Apabila dilihat dari dalam pesawat udara yang akan mendarat akan terlihat hamparan lahan pertanian yang luas dengan batas-batas kasat mata dan praktis rata tanpa perbukitan. Sistem kepemilikan tanah, lahan yang rata dan hak waris menciptakan lahan luas sehingga efisien dalam mekanisasi pertanian yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas lahan. Hak waris dilaksanakan dengan pembagian saham dan dikelola oleh salah satu anggota keluarga dengan digaji dan labanya dibagikan sebagai dividen para ahli waris. Bandingkan dengan Indonesia yang lahannya rata-rata 0,2 hektar dengan petak pematang sempit dan terasering seperti anak tangga. Lahan dengan geografi seperti Indonesia sedap dipandang mata namun hampir tidak mungkin dikelola dengan mekanisasi pertanian yang efisien. Lahan luas dan rata seperti di Thailand memungkinkan traktor pengolah tanah, mesin penyemai bibit, mesin penebar pupuk dan mesin pemetik hasil tanaman, dapat bekerja dengan efisien.
Air sebagai sumber kehidupan
Salah satu kepercayaan agama Budha yang banyak diterapkan rakyat Thailand adalah bahwa air merupakan sumber kehidupan manusia. Apabila manusia menginginkan hidup yang sehat dan sejahtera maka peliharalah sumber air. Pemahaman ini dihayati benar dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga ada anggapan bahwa apabila ada sampah atau kotoran lain di sungai, danau atau laut, maka akan dituding sebagai perbuatan para turis yang memang banyak di Thailand, suatu indikator sukses lainnya di bidang pariwisata. Air benar-benar merasuki setiap penduduk Thailand, tiada bangunan tanpa hiasan air mancur, kolam ikan atau air hiasan lainnya, tiada rumah tanpa suara kricik-kricik air. Hari raya tahun baru Thailand, Songkran, dimeriahkan setiap tahun oleh meriahnya pesta air berupa perang siram siraman air di jalan yang sangat digemari para turis. Setahun sekali dirayakan pula ritual penebusan dosa kepada sumber air dengan melabuh lampion di malam hari di sungai, laut, danau. Masyarakat tetap merasa bersalah telah mengotori sumber air secara tidak sengaja, meskipun telah berupaya keras menjaganya, sehingga merasa perlu untuk menebus dosa.
Dengan kepercayaan seperti mendewakan air dimanapun komunitas Thailand berada, tidak mengherankan apabila ketersediaan air untuk keperluan pertanian hampir tanpa masalah kekeringan, kebanjiran, polusi, intrusi air laut, tercemar bahan racun dan sejenisnya. Apabila hal itupun terjadi maka yang dipersalahkan adalah turis, perusahaan asing, bencana alam El Nino dan sejenisnya. Sumber air yang tidak ada habisnya datang dari dua sungai besar, Mekong di utara dan Chaopraya di selatan, dialirkan ke sistem kanal dan irigasi di sekeliling lahan pertanian. Kota Bangkok yang pada sejumlah tempat lebih rendah dari permukaan laut dilindungi dari banjir oleh 200 sistem pompa raksasa dan banjir kanal sekaligus bersinergi dengan irigasi lahan padi sehingga meningkatkan efisiensi pemanfaatan air yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas lahan pertanian.
Semua bibit unggul
Teknologi budidaya tanaman dikuasai bangsa ini sejak lama. Tidak kurang dari program raja, program pemerintah, program universitas, dan program swasta melakukan sinergi maupun berusaha sendiri-sendiri memproduksi bibit unggul. Agro bisnis dan agro industri telah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menciptakan insentif bagi para pelaku produsen bibit unggul sehingga berlomba-lomba melakukan riset untuk memproduksi bibit yang lebih produktif dan efisien. Sektor pertanianpun mampu menyerap bibit unggul yang dihasilkan dan menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bersama dengan para pelaku agro bisnis lainnya.
Kebijakan budidaya tanaman pertanian Thailand pada umumnya memfokuskan hanya kepada sedikit jenis spesies bibit unggul. Apabila sudah didapat bibit unggul yang diinginkan, maka spesies lain tidak diperkenankan untuk ditanam sehingga hampir selalu terjadi monokultur tanaman jenis tertentu. Misalnya padi dibatasi hanya 3 spesies, durian 2 spesies, asem jawa manis hanya 1 spesies, sedangkan spesies lain yang tidak diharapkan tidak boleh ditanam dan hanya boleh hidup di kebun-kebun percobaan atau menjadi koleksi lembaga riset. Pola monokultur ini memberikan keseragaman output, memudahkan penanganan pasca panen, meningkatkan daya saing ekspor dan mengendalikan penyakit tanaman.
Pasar jasa pertanian yang saling menghidupi
Kalau kita bepergian dengan mobil kearah pinggiran kota Bangkok, segera saja akan terlihat banyaknya mesin-mesin olah pertanian yang di parkir menanti penyewa di perusahaan rental peralatan mekanisasi pertanian. Perusahaan rental ini banyak berlokasi di pinggir jalan-jalan utama di batas kota Bangkok dengan daerah pedesaan. Pemandangan ini akan lebih ramai lagi apabila masa-masa sibuk seperti musim tanam, musim olah tanah, atau musim panen sudah lewat.
Lahan pertanian luas setiap unitnya dan geografis tanah Thailand yang rata memerlukan berbagai jenis peralatan mekanisasi pertanian, dari traktor pengolah tanah, bulldozer, backhoe, pembuat parit, pompa irigasi, penebar pupuk dan banyak lainnya. Produsen mesin pertanian asal Amerika, Eropa, Jepang terwakili menyemarakkan pasar rental Thailand. Struktur harga sektor pertanian dirasa pas untuk para pelaku dan mampu saling menghidupi. Petani cukup hidup layak dengan harga jual produk pertanian di pasar lokal dan mampu membeli barang-barang input seperti pupuk, obat-obatan, air, bibit unggul, sewa mesin pertanian dan lainnya. Demikian juga para pemilik tanah maupun produk-produk input dapat hidup layak pula. Pasar rental menghadapi iklim kondusif berupa tingkat permintaan yang tinggi dari para petani untuk menyewa peralatan. Indikator penting adalah tetap kompetitifnya harga jual ekspor untuk seluruh produk pertanian Thailand, yang berarti masih ada margin cukup bagi para eksportir yang membeli produk pertanian dari para petani. Secara ringkas berarti ekonomi Thailand berlangsung secara efisien dan dalam koridor mekanisme pasar.
Pupuk NPK lokal dengan bahan impor
Suatu ironi pada negeri gajah putih ini, dimana pada satu sisi merupakan negeri pertanian unggulan namun pada sisi lain sangat tergantung pada pupuk impor terutama urea dan ammonium nitrat. Pupuk impor kemudian diblending dengan bahan pupuk lokal Kalium menjadi pupuk NPK untuk kemudian dimonopoli oleh BUMN dan didistribusikan secara nasional. Dengan cara ini Thailand mendapatkan bahan baku pupuk secara efisien (tender internasional) dan mengamankan pupuk nasional dari sisi harga, mutu maupun jumlahnya. Sejauh ini kebijakan pupuk Thailand cukup efektif diserap petani, digunakan sesuai dengan target lahan dan digunakan sebagai alat ukur atau memproyeksikan hasil panen.
Pupuk NPK tidak diperkenankan untuk diekspor maupun diimpor untuk menjaga kualitas yang seragam dan mengamankan ketersediaannya pada tingkat petani terutama pada setiap musim tanam. Berbeda dengan dunia pupuk kita yang dimana pupuk bersubsidi tidak sampai ke petani tanaman pangan tapi ke perkebunan kelapa sawit atau diekspor sehingga petani menanam tanpa pupuk atau kurang dari jumlah standard sehingga proyeksi output padi dan tanaman pangan lainnya menjadi bias ditambah carut marut beras impor baik legal maupun selundupan.
Etos Kerja, lembur dengan amfitamin:
Petani dan pekerja Thailand dikenal memiliki etos kerja yang tangguh mampu bekerja lebih lama dengan produktivitas sama dan tekun dalam melakukan pekerjaan. Bahkan untuk mengejar pendapatan yang lebih banyak, mereka terkadang memaksakan diri dengan mengkonsumsi amfitamin yang dampaknya membuat orang tahan kantuk dan lupa kelelahan. Apabila didunia lain orang mengkonsumsi untuk tripping semalam suntuk di diskotik dengan house music yang monoton sampai pagi, di Thailand orang menggunakannya untuk bekerja lembur. Hal yang ingin diungkapkan disini bukan perilaku narkoba tetapi lebih karena perilaku kerja keras petani maupun buruh industri, nelayan, pekerja kasar proyek infrastruktur. Dampak negatif banyak terjadi selepas kerja pada saat mereka dalam perjalanan pulang kerumah. Kelelahan yang diulur dengan obat-obatan mencapai puncak kumulatif ketika mereka di jalan sehingga kurang peka terhadap bahaya lalulintas.
Keunggulan Keterkaitan Hulu-Hilir Industri Agro
Sukses Thailand di sektor pertanian masih diperpanjang dengan kondisi harmonis antara pasar pertanian dan pasar industri. Kedua sektor dapat saling menghidupi menciptakan sinergi sehingga keduanya mampu mencapai tingkat kinerja bahkan daya saing yang memadai baik di pasar dalam negeri maupun internasional. Faktor utama yang memberikan kontribusi penting diantaranya aspek distribusi dengan keberadaan pasar agro bisnis yang meliputi mekanisme yang saling menunjang diantara pasar induk, pasar regional, pasar kontrak, pasar lelang, yang bekerja sesuai mekanisme pasar.
Pasar induk Thailand didisain untuk memberikan keleluasaan sepenuhnya bagi para pelaku sektor agro bisnis terutama petani produsen buah, sayur, ternak, ikan dan udang budidaya. Di tempat yang luas ini petani mempunyai banyak pilihan, apakah mau menjual sendiri hasil kebunnya, maka tersedia tempat yang diinginkan. Umumnya petani jenis ini membawa truk atau pickupnya dan menjajakan barang dagangannya ditempat parkir yang disediakan. Apabila petani ingin menjual secara berkelompok, maka tersedia tempat untuk kelompok tani. Apabila petani ingin menjual kepada eksportir juga tersedia tempat bernegosiasi. Pilihan petani tentunya memiliki kondisi yang berbeda-beda tergantung pilihan yang paling menarik bagi setiap individu petani yang bersangkutan, yang menyangkut kuantitas, kualitas, delivery dan persyaratan lain.
Pasar regional sesungguhnya juga pasar induk namun pada tingkat propinsi atau mencakup wilayah beberapa propinsi. Perbedaan pasar induk tingkat nasional dibandingkan tingkat propinsi dibedakan oleh lokasi, produk yang diperdagangkan dan volume transaksi pada pasar tersebut. Pasar regional juga tidak buka setiap hari seperti pasar induk.
Pasar lelang merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli produk tertentu dan hari tertentu selama periode panen tertentu. Umumnya hanya berupa tanah lapang luas atau pelataran semen luas untuk tempat parkir para pembeli dan penjual yang umumnya datang dengan truk. Kantor pasar lelang juga hanya buka pada saat lelang berlangsung. Pasar ini juga memiliki jadwal tetap kapan buka dalam periode setahun dan umumnya mencatat harga transaksi dan volume transaksi untuk dilaporkan ke tingkat pusat.
Pasar kontrak merupakan pasar virtual karena tidak memiliki tempat tertentu, namun para petani dapat melakukan kontrak penjualan dengan industri pengolah pertanian. Misalnya petani cabe bisa melakukan kontrak dengan perusahaan produsen sambel botolan, atau pabrik mi instant dan pabrik lainnya yang membutuhkan cabe dalam jumlah banyak. Untuk menjaga agar perusahaan tidak bertindak sepihak sehingga merugikan petani yang lemah posisi tawarnya, maka pemerintah mewajibkan agar kontrak tersebut di tandatangani tiga pihak yaitu penjual pembeli dan seorang saksi pejabat pemerintah. Apabila salah satu pihak penjual atau pembeli merasa dirugikan, maka pemerintah dapat menjadi penengah.
Pasar berjangka juga disediakan pemerintah sebagai sarana penjual, pembeli, dan pedagang untuk mengamankan kepentingannya secara legal. Seperti juga terdapat di Indonesia, pasar berjangka merupakan sarana yang disediakan pemerintah untuk melakukan transaksi bagi para pihak dengan penyerahan barang dikemudian hari namun disebutkan tanggal yang jelas sesuai dengan kesepakatan, kualitas standard dan harga yang mengacu kepada pergerakan harga internasional. Dengan sarana ini para pihak terkait dapat melakukan lindung nilai (hedging) dari transaksinya dimasa depan terhadap risiko gejolak harga yang sukar dideteksi oleh instrumen pasar lainnya. Petani produk pertanian akan terlindungi dari jatuhnya harga jual yang sangat rendah akibat panen yang over supply dan pembeli juga akan terlindungi dari meroketnya harga akibat gagal panen atau gejolak lainnya. Dengan mekanisme ini pihak penjual dan pembeli menghadapi kepastian harga yang predictable dan wajar sehingga menciptakan pasar yang kondusif bagi para pelakunya.
Dengan adanya pasar berjangka, pasar kontrak, pasar lelang, pasar induk, pasar regional, maka suplly chain management nasional berlangsung secara efisien dan melindungi semua pelaku di pasar.
Pasca Panen, tidak membawa sampah ke kota
Satu lagi keunggulan sistem supply chain management nasional Thailand di sektor agro bisnis maupun industri agro adalah prinsip yang sangat sederhana namun sangat efektif dengan prinsip distribusi yang “tidak membawa sampah” dari lahan pertanian ke kota, sepanjang rantai distribusi, apalagi untuk keperluan ekspor. Jadi setiap pergerakan distribusi produk pertanian selalu hanya membawa produk yang lulus kualitas, keseragaman, kebersihan. Implementasi dari prinsip ini sederhana saja. Para pedagang yang akan membeli misalnya buah jeruk dari petani tertentu, akan menyediakan kemasan dari karton yang sudah lengkap dengan label dan informasi lain tentang isinya, termasuk sekat-sekat dari kotak karton tersebut yang secara otomatis merupakan ukuran buah jeruk yang dapat diterima oleh pedagang jeruk yang bersangkutan. Dengan adanya sekat untuk setiap butir jeruk, maka hanya jeruk yang memenuhi syarat kualitas, ukuran yang seragam dan kebersihan, yang boleh dimasukkan kedalam kotak karton tersebut. Jeruk lainnya ditolak oleh pedagang dan dipasarkan lokal oleh petani tersebut. Dengan cara ini distribusi berjalan sangat efisien, hanya jeruk yang bisa jadi duit saja yang masuk kota besar bahkan dapat langsung diekspor, sedangkan yang apkir dan potensial menjadi sampah dikota, tidak ikut terbawa dan dimanfaatkan dikonsumsi didesa ataupun menjadi pupuk organik. ™
Distribusi dalam negeri dan luar negeri jalan raya, KA, cargo laut, udara
Luar negeri star alliance (passanger meal, diklat, pramugari, 18 anggota), EPZ pasar ekspor utama
Thai Restaurant chain di Jakarta ada 17 restaurant, Thai Incrp (embassy, Thai coy, Thai Rest, Thai property, thai student, thai wifes, warga thai) thai supermarket mancanegara,
Just in time hotel, restaurant, super market, pasar distribusi
Insentip program Raja dan program pemerintah:
Rumitnya produk pertania (pelaku, peraturan, regulator, pemerintah pusat, pemda, instansi, konsumen, panjangnya rantai distribusi)
( Ditulis : 11 September 2000 )
Peluang Handicraft di Daerah Tujuan Wisata Thailand
•April 14, 2008 • Leave a CommentMinggu lalu, kami beserta Konsul Indonesia di Songkhla Thailand Selatan mengadakan promosi Investasi, Perdagangan, Perikanan dan Pariwisata di wilayah-wilayah selatan Thailand didekat perbatasan Malaysia, diantaranya propinsi Phuket, Krabi, dan Nakorn Sri Thamarat. Cukup banyak peluang ekspor maupun kerjasama di sektor perdagangan, perikanan dan pariwisata, yang didapati dari temu bisnis yang selalu dijadwalkan di setiap propinsi, dalam kesempatan ini dilaporkan peluang besar bagi produk handicraft.
Phuket merupakan daerah wisata baru 5 tahun terakhir ini dengan penduduk 300 ribu dan jumlah turis 3 juta orang, memiliki bandara internasional langsung dari sejumlah kota Eropa, sejumlah kota Amerika Utara dan sejumlah kota Asia Timur. Krabi dengan penduduk 100 ribu dan jumlah turis 1 juta orang, memiliki bandara nasional. Nakorn Sri Thamarat memiliki penduduk 1,5 juta, dan juga memiliki turis dengan jumlah substansial.
Peluang yang diamati justru datang dari para turis mancanegara. Wilayah-wilayah wisata ini mampu berkembang secara luar biasa dari lahan yang tadinya rawa tidak berpenghuni. Jutaan turis ini terlihat belum terlayani dengan baik dalam hal aneka jenis barang-barang handicraft. Wilayah ini tidak memiliki penduduk yang berprofesi pengrajin handicraft sehingga mendatangkannya dari wilayah sekitar Bangkok dan Chiangmai, yang juga terbatas dan kering design maupun budaya. Di pasar saat ini banyak terdapat produk handicraft dari negara tetangga seperti China, Laos, Myanmar, Vietnam dan Indonesia. Mutu dari produk yang ada di pasar, kurang baik dan tidak seimbang dengan mutu jasa pelayanan pariwisata yang tersedia.
Pada acara temu bisnis terungkap bahwa para tour operator di wilayah-wilayah ini telah menyadari langkanya produk handicraft yang berkualitas baik dengan harga bersaing. Mereka menyatakan cukup mengenal produk handicraft Indonesia yang berkualitas baik dan harganya bersaing. Mereka akan menyambut baik apabila KBRI dan Konsul Indonesia di Songkhla dapat menjembatani para tour operator dan pemain bisnis pariwisata daerah-daerah wisata dengan para eksportir handicraft Indonesia.
Peluang bagi para eksportir Indonesia berdasarkan pengamatan kami dapat dikelompokkan dalam dua kategori. Yang pertama adalah produk handicraft dengan design apa adanya sekarang ini, meskipun sangat kental dengan design budaya Indonesia yang tentunya sudah banyak diketahui oleh sebagian dari masyarakat internasional. Produk-produk tersebut saat ini masuk Thailand sebagai barang cangkingan, hampir tidak tercatat dalam statistik bilateral, sehingga sedikit tersedia di pasar dengan harga sudah keliwat tinggi. Akibatnya, peluang menjadi kurang dimanfaatkan secara maksimal.
Produk handicraft kategori kedua justru yang paling besar peluangnya yaitu produk buatan pengrajin Indonesia dengan design budaya Thailand setempat. Harga produk ini dipasang tinggi dan merupakan kebanggaan Thailand. Pengrajin Indonesia bisa memanfaatkan rasa bangga orang Thailand untuk mendapat harga tinggi. Craftmanship bangsa Thailand berdasarkan pengamatan kami masih berada dibawah craftmanship orang Bali, Lombok, Jogya dan Solo, sehingga dengan sedikit upaya dari para designer yang ada sekarang, dapat diciptakan produk-produk dengan warna Thailand untuk diekspor ke daerah-daerah wisata Thailand yang kaya dengan turis, dengan harga cukup tinggi.
Dari pengamatan sebelumnya terhadap satu desa di Jepang, terdapat suatu usaha yang tidak pernah sepi pesanan handicraft karena desa ini dapat membuat aneka ragam produk handicraft dari berbagai tempat tujuan wisata di Jepang, Amerika Utara dan Eropa dengan strategi : memiliki masterpiece design yang sama, kemudian diberi “warna budaya” berbeda-beda untuk setiap tujuan wisata berbeda dan diekspor ke mancanegara sebagai barang souvenir. Misalnya, didaerah wisata air terjun Niagara USA, terdapat souvenir mahal yang tempat pembuatannya berada di Jepang. Strategi ini mungkin dapat ditiru oleh produsen handicraft Indonesia untuk membuat produk souvenir tujuan wisata yang kaya turis di Thailand. Secara nasional, Thailand memiliki tourist arrival hampir 10 juta orang (tepatnya 9,8 juta) tahun 2000 yang lalu.(TM)
( Ditulis : 19 Febuari 2001 )
Arti Thailand Bagi Indonesia
•April 14, 2008 • Leave a CommentPertemuan bilateral RI-Thai dalam Joint Commission IV yang baru di selenggarakan di Bangkok diantaranya menyetujui sejumlah kesepakatan yang tercantum dalam agreed minutes yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri kedua negara. Laporan lengkap pertemuan tersebut disampaikan secara resmi oleh Ketua Delegasi RI. Dalam pertemuan tersebut, Depperindag diwakili oleh Direktur Kerjasama Bilateral-1, Ditjen KIPI. Dari berbagai materi pembicaraan, dapat diambil suatu kesimpulan penting bahwa secara umum, upaya peningkatan ekspor Indonesia mengalami kendala yang sangat mendasar yaitu kelangkaan infrastruktur perdagangan pada setiap pasar tujuan ekspor, yang meliputi : trade financing baik pre-shipment maupun post-shipment; angkutan cargo yang efisien; asuransi ekspor yang dapat diandalkan secara kualitas maupun kuantitas; export and investment overseas guarantee; jalur distribusi di negara tujuan ekspor; market intelligent bagi eksportir. Kelangkaan infrastruktur perdagangan Indonesia inipun terungkap bila dibandingkan dengan yang dimiliki Thailand, belum dibandingkan dengan negara super exporter. Mungkin kiranya kelangkaan infrastruktur tersebut dapat didekati dengan “memberi warna” perusahaan BUMN dan swasta yang berada pada jalur tersebut dengan “kepentingan nasional di bidang perdagangan”, misalnya melalui intervensi profesional Depperindag pada jajaran pemegang saham, komisaris atau manajemen perusahaan dengan mekanisme fit and proper test.
Diantara sejumlah kesepakatan bilateral, disampaikan pokok-pokok yang kiranya perlu mendapatkan prioritas dalam melaksanakan tindak lanjutnya. Sebagai kegiatan awal, mungkin sebaiknya masing-masing negara menunjuk Kelompok Kerja Ahli (expert group) untuk merumuskan action plan yang diperlukan. Sejumlah kesepakatan yang dibahas meliputi materi information technology, joint trade committee, banking and payment arrangement, industrial standard, animal health protocol, dan custom cooperation.
1. Information Technology : Selain pada pertemuan ini, materi kerjasama ini telah disepakati pula pada saat pertemuan Presiden RI dan Perdana Menteri Thailand. Dari pihak Thailand, National Electronics and Computer Technology Center (NECTEC) telah menyatakan siap memberikan bantuan teknis seperti diminta Indonesia pada kesepakatan diatas. Lembaga ini sudah memiliki infrastruktur IT, seperti Undang-Undang, standard software dan hardware, sedangkan standard brainware (sumberdaya manusia) sedang dilaksanakan dengan mengacu kepada standard Jepang. Pihak NECTEC telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan demonstrasi kepada staf KBRI. Namun sebaiknya mungkin akan lebih baik bila bersama-sama dengan pejabat/lembaga yang ditentukan pemerintah, beserta pejabat Depperindag terkait.
2. Joint Trade Committee : Indonesia dan Thailand telah saling mengajukan usulan naskah Trade agreement untuk ditindaklanjuti dan diselesaikan naskahnya untuk kemudian ditandatangani. Untuk itu disepakati dibentuknya Joint Trade Committee yang akan diberi mandat menyelesaikan naskah tersebut dan melaksanakan implementasinya. Untuk melakukan perencanaan dan pelaksanaan kesepakatan tersebut, diharapkan informasi tentang posisi Indonesia dalam trade agreement tersebut dan arahan langkah-langkah yang perlu dilaksanakan. Apabila Indonesia dalam posisi yang lebih mendorong trade agreement, diusulkan agar klausul infrastruktur perdagangan (Standard, Trade Financing, Custom Procedure, dan sejenisnya) dirumuskan secara rinci dan tentunya lebih mendukung kelancaran arus barang dagangan (lebih bebas) dibanding kesepakatan IMT-GT dan CEPT-AFTA.
3. Banking and payment arrangement: Sebagai upaya keras untuk meningkatkan volume dan nilai perdagangan bilateral, disepakati untuk mempergunakan segala cara dan mekanisme perdagangan, diantaranya counter trade dan counter purchase dengan semacam fasilitas escrow account. Disepakati pula upaya peningkatan perdagangan bilateral melalui transaksi yang menggunakan mata uang lokal. Perlu kiranya diketahui bahwa transaksi perdagangan RI-Thai masih menghadapi kendala dalam mekanisme L/C. Untuk mempersiapkan keduanya, telah disepakati kerjasama antara Bank Ekspor Indonesia dan Bank EXIM Thailand. Dengan kerjasama ini diharapkan pula para eksportir – importir kedua negara dapat menghemat foreign exchange fee antara USD-Rupiah-Baht dua arah, melalui penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral.
4. Industrial standard: Kesepakatan dan kerjasama di bidang standard diantaranya dimungkinkan dalam kerangka kerjasama standard conformance, Mutual Recognition Arrangement (MRA), kerjasama teknis dan sejenisnya. Standard telah menjadi suatu kendala dalam bentuk hambatan teknis dalam kasus ekspor floatglass dan produk baja Indonesia ke Thailand. Dengan kerjasama standardisasi, diharapkan akan terjadi saling memahami ketentuan standard masing-masing negara, saling mengakui sertifikasi standard dan memiliki kesepakatan mekanisme penyelesaian sengketa. Dengan skenario tersebut, pelaksanaan standard tidak menjadi hambatan perdagangan yang tidak perlu bagi arus perdagangan bilateral.
5. Animal health protocol: Indonesia memiliki keunggulan komparatip di bidang ternak unggas, kambing, sapi, kerbau dan produk-produknya karena bebas penyakit kuku dan mulut (bersama USA, Kanada, Australia dan Selandia Baru), bebas penyakit madcow, memiliki lahan luas dan bahan pakan ternak yang tidak terbatas. Unggul pula dalam halal food untuk produk-produk ternak dan makanan olahannya. Namun karena belum memiliki agreement bilateral dibidang ternak maka prosedur pengawasan penyakit ternak menjadi hambatan dagang yang sangat ketat. Dengan agreement ini diharapkan tercipta akses pasar ke wilayah Thailand dan sekitarnya dan tercipta pemanfaatan keunggulan komparatip. Pasar Thailand saat ini dipasok oleh ternak dari Myanmar, Laos, Cambodia melalui penyelundupan maupun perdagangan lintas batas (border trade) yang kurang terawasi kesehatannya. Dengan semakin tingginya kesadaran kesehatan akibat sangat populernya dan ketakutan orang akan madcow dan semakin tingginya tingkat kesejahteraan rakyat, maka permintaan akan ternak yang sehat diproyeksikan akan meningkat.
6. Customs : Dengan semakin rendahnya tarif bea masuk intra Asean, maka administrasi dan prosedur Customs telah menjadi kasus hambatan perdagangan, seperti yang terjadi pada produk baja Indonesia. Untuk mengantisipasi kasus yang sama pada produk lain, maka kerjasama yang lebih erat dan harmonisasi Customs RI-Thai diharapkan dapat saling menghindari hambatan perdagangan yang tidak perlu.(TM)
( Ditulis : 15 Juni 2001 )
